Stop Dreaming Start Action

Diposkan oleh zaduna | Senin, November 16, 2009

Stop Dreaming Start Action merupakan ungkapan/kata-kata dari banyak motivator ulung yang tujuannya memacu kita supaya jangan ngayal terus, jangan mimpi terus. Tapi mimpi harus ada terlebih dahulu sebelum action.. apa yang mau di action kan kalo gak ada cita-cita atau tujuan?

Pada dasarnya semua orang memiliki mimpi atau dreaming yang tentunya beda-beda. Sekarang kita tinggal cari cara supaya dreaming atau mimpi itu bisa terwujud. Impossible is Nothing kata orang bule mah atau gak ada yang gak mungkin selama kita bernafas dan berusaha untuk mencapai mimpi atau Action itu.

Kembali ke diri kita masing-masing aja sekarang mah. Mau gak mencapai mimpi itu ? Kalo mau ya harus action. Kalo berusaha otomatis harus berkorban baik itu waktu, materi ataupun non materi.

Berkorban waktu : Dalam pencapaian mimpi harus ada proses yang tentu saja tidak sebentar. Jadi jangan sampai menyia-nyiakan waktu hanya untuk melakukan hal-hal yang gak perlu. Gunakan waktu se-efektif mungkin.

Berkorban Materi : Kita juga membutuhkan modal materi untuk mewujudkan mimpi kita. Jadi jangan sampai terjebak dengan kata-kata "Tanpa modal bisa jadi Jutawan" itu kata-kata yang tidak realistis (not realistic for Action).

Berkorban non Materi : Otak kita juga musti dikorbankan dalam pencapaian mimpi ini. Kita harus berfikir dan mengisi otak kita dengan ilmu. dan bukan hanya otak saja, tapi perasaan kita juga musti dikorbankan, dan itu semua wajar.

Ketiga faktor pengorbanan itu saling berhubungan satu sama lain. Belajar atau proses pengisian otak membutuhkan waktu dan materi untuk membeli buku atau Rental Warnet untuk mencari ilmu di internet atau bayar provider internet. Jadi dalam belajar pun gak gratis. Jadi kata-kata "Tanpa modal jadi jutawan" itu di-ignore aja dari otak kita. Disaat gagal misalnya kita pasti merasa terpuruk dan merasa paling kecil sedunia. Ini mengorbankan perasaan kita juga kan?

Jadi kesimpulannya selama waktu, materi dan non materi yang kita keluarkan itu memiliki tujuan untuk mencapai mimpi, cita-cita kita, sama sekali kita gak rugi. Karena itu adalah proses untuk pencapaian mimpi. Jangan pernah takut gagal karena itu juga proses menggapai cita-cita. Semua orang pernah gagal, dan banyak orang yang sukses karena cepat bangkit dari kegagalan.

Moga-moga bermanfaat.

Read More...

Kebutuhan VS Keinginan

Diposkan oleh zaduna | Rabu, April 15, 2009

Hati-hati jika Anda tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Karena kalau Anda tidak bisa membedakan yang mana yang masuk sebagai kebutuhan dan yang sebenarnya masuk sebagai keinginan, bisa-bisa Anda menjadi orang yang boros.

Dan boros bisa menjadi biang masalah dalam keuangan Anda. Dengan hidup boros, lama kelamaan bisa defisit. Pemasukan Anda tidak sanggup lagi membiayai pengeluaran yang terus membesar. Dan jika sudah defisit, seringkali jalan keluar singkatnya dengan berhutang. Hutang, apalagi yang berbunga, bisa membuat Anda bangkrut. Dan bangkrut itu adalah akhir dari nasib keuangan Anda.

Karena tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan, maka dengan ringannya Anda bisa mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membeli sesuatu. Padahal mungkin uang itu akan lebih bermanfaat kalau sekiranya digunakan untuk hal lainnya.

Tidak bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan juga bisa membuat Anda tidak bisa menentukan dengan baik prioritas dalam melakukan pembelanjaan. Malah, bisa jadi Anda mengorbankan suatu kebutuhan untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan.

Apa sih bedanya antara kebutuhan dan keinginan?
Sebenarnya tidak ada batasan yang pasti untuk menentukan perbedaan antara kebutuhan atau keinginan. Tapi sebagai panduan, seroang kawan saya memberi definisi berikut:

Kebutuhan adalah sesuatu yang diperlukan oleh manusia sehingga dapat mencapai kesejahteraan, sehingga bila ada diantara kebutuhan tersebut yang tidak terpenuhi maka manusia akan merasa tidak sejahtera atau kurang sejahtera. Dapat dikatakan bahwa kebutuhan adalah suatu hal yang harus ada, karena tanpa itu hidup kita menjadi tidak sejahtera atau setidaknya kurang sejahtera.

Sedangkan keinginan adalah sesuatu tambahan atas kebutuhan yang diharapkan dapat dipenuhi sehingga manusia tersebut merasa lebih puas. Namun bila keinginan tidak terpenuhi maka sesungguhnya kesejahteraannya tidak berkurang.

Itu kalau kita lihat dari segi kepuasan atau kesejahteraan seseorang. Tapi yang namanya kesejahteraan dan kepuasan juga sangat relatif bagi setiap orang. Sedangkan saya sendiri berpendapat bahwa untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan, harus dilihat dari segi fungsinya. Sesuatu dikatakan sebagai keinginan kalau sudah merupakan tambahan atas fungsi utamanya.

Contoh sederhana, makan adalah kebutuhan yang tidak terelakan. Bukan cuma manusia, setiap makhluk hidup butuh yang namanya makan. Makan akan memberikan tenaga dan kesehatan bagi manusia, maka makan makanan yang bergizi adalah kebutuhan kita semua.

Makanan memiliki fungsi utama sebagai sumber energi untuk tubuh. Sedangkan memberikan rasa enak adalah fungsi tambahan dari makanan. Maka makanan enak adalah keinginan, bukan kebutuhan. Tapi bukan berarti tidak boleh makan makanan yang enak-enak. Hanya saja kita perlu mempertimbangkan dulu apakah pengeluaran untuk makanan enak itu akan mengorbankan kebutuhan yang lain atau tidak.

Contoh lain. Berpakaian adalah kebutuhan kita agar terlindung dari cuaca. Pakaian juga berfungsi untuk menjaga aurat yang musti kita jaga. Bagi sebagian orang mungkin memang dibutuhkan untuk berpakaian dengan jenis tertentu untuk kepantasannya, seperti memakai dasi atau jas. Tapi apakah perlu memakai pakaian yang bermerk dan mahal? Saya rasa pakaian bermerk dan mahal bukan lagi kebutuhan, tapi keinginan saja.

Rumah juga kebutuhan, tempat kita tinggal dan bernaung. Agar rumah bisa berfungsi dengan baik, rumah juga ditunjang dengan berbagai perlengkapan rumah tangga seperti televisi, kulkas, dan perabotan lainnya. Setiap alat dan perabotan itu memiliki fungsinya masing-masing. Selama itu digunakan sesuai dengan fungsinya, itu adalah kebutuhan. Tapi kalau sudah digunakan untuk “pamer”, sekedar menunjukkan kepada tetangga bahwa kita pun mampu membeli seperti mereka. Saya rasa itu bukan lagi kebutuhan, itu hanya keinginan. Dan keinginan seperti ini sebaiknya tidak dituruti.

Standar kebutuhan dan keinginan bagi setiap orang bisa jadi berbeda. Tentunya sangat tergantung dari kondisi lingkungan, aktivitas harian, tuntutan pekerjaan/profesi dan sebagainya.

Bagi sebagian orang, mobil sudah merupakan kebutuhan. Untuk bisa menunjang aktifitasnya yang banyak di luar rumah dan sering bepergian, maka mobil adalah alat transportasi yang menjadi kebutuhan. Jika fungsi mobil adalah untuk alat transportasi, membawa kemana kita akan pergi.

Tapi seringkali kita punya keinginan untuk menambah berbagai macam aksesories mobil, bukan untuk menambah kenyamanan atau kemanan berkendara, tapi hanya sekedar mempercantik penampilannya saja. Saya rasa itu bukan kebutuhan, itu cuma keinginan saja. Dan keinginan ini bisa ditunda kalau semua kebutuhan yang lain sudah terpenuhi dengan baik.

Apalagi memiliki beberapa jenis mobil, padahal kita hanya bisa menggunakannya satu saja. Saya rasa itu sudah jelas keinginan, sama sekali bukan kebutuhan.

Kalau kita sudah bisa membedakan yang mana kebutuhan dan yang mana keinginan maka kita bisa menentukan prioritas, mana yang harus didahulukan dan mana yang bisa ditunda.

Tidak ada salahnya memang kita memenuhi keinginan kita untuk sekali-kali makan di restoran untuk merayakan sesuatu, atau memasang aksesori mobil agar lebih aman dan nyaman. Tapi ingat, jangan sampai hal iu mengorbankan kebutuhan kita yang lain yang lebih penting.

Walaupun mungkin saat ini Anda merasa mampu untuk memenuhi semua keinginan Anda, tapi kita tetap harus bijaksana, jangan sampai lupa dengan kebutuhan di masa yang akan datang. Kita harus mempersiapkan dana pensiun kita agar bisa menikmati hari tua dengan tenang, kita juga harus mempersiapkan dana pendidikan bagi anak-anak kita, dan itu semua adalah kebutuhan masa depan yang harus disiapkan mulai dari sekarang.

Yang wajib diingat adalah, jangan sampai memenuhi keinginan dengan mengindahkan kebutuhan. Dan jangan sampai melupakan bahwa kebutuhan tidak musti semua datang sekarang, karena masih ada kebutuhan untuk dipenuhi di masa depan. Sedangkan yang namanya keinginan manusia tidak akan pernah ada batasnya, nanti atau sekarang.

Jadi, buat apa memenuhi keinginan Anda sekarang tapi mengorbankan kebutuhan Anda dan keluarga di masa depan.

Read More...

Anda Entrepreneur atau Freelancer?

Diposkan oleh zaduna | Kamis, April 02, 2009

Bosan terkungkung di perusahaan yang memasung kreativitas? Mungkin itu salah satu dari sederet alasan mengapa orang hijrah untuk membangun bisnis sendiri. Alasan lain, ingin mereguk kepuasan pribadi, menggenjot pendapatan, mendambakan kebebasan, hingga rindu waktu yang lebih leluasa bareng keluarga. Apapun alasan untuk menyalakan bisnis sendiri, Anda bisa memilih menjadi freelancer atau entrepreneur. Anda termasuk yang mana?

Ada yang salah dengan salah satu dari freelancer atau entrepreneur? Tidak, keduanya dibekali kelebihan masing-masing. Nah, kenapa musti peduli posisi kita apakah menjadi freelancer atau entrepreneur? Tentunya dengan memahami posisi itu, kita bisa ambil ancang-ancang. Apakah setia menjadi freelancer atau akan beranjak menjadi entrepreneur. Berikut perbedaannya, menurut Isabel M Isidro dari PowerHomebiz.com.

Menjadi entrepreneur, berarti membangun bisnis hingga lebih besar dari dirinya sendiri, mengundang gelontoran dana pemodal dan mungkin hingga meluncurkan IPO (Initial Public Offering). Pada dasarnya, impian entrepreneur adalah mentransformasikan bisnis mungilnya, menjelma lebih besar atau jika mungkin menjadi konglomerasi. Seorang entrepreneur tak akan segan bekerja ekstra keras, ekstra beban kesibukan kerja, demi mewujudkan impiannya. Bahkan, tak akan jera menghadapi risiko keuangan dan bejibun tantangan.

Di sisi lain, seorang freelancer lebih mendambakan kebebasan dan pendapatan dari usaha "menjual" dirinya. Freelancer tidak (atau belum) ingin menjalankan organisasi yang lebih besar. Sebaliknya, mereka membangun bisnis dalam skala lebih kecil yang membuatnya lebih nyaman dan lebih bebas. Gagasannya adalah menjadi seorang bos bagi dirinya sendiri itulah yang penting. Tipe pebisnis seperti ini lebih suka menjadi ikan besar di kolam kecil ketimbang menjadi ikan kecil di kolam besar. Memburu investor bukan prioritas bagi seorang freelancer karena pertimbangan tak ingin membagi kontrol atas usahanya. Freelancer tak terlalu ambil pusing dengan bisnisnya yang berputar tak terlalu cepat, karena tak mau pening oleh cawe-cawe pemilik dana pihak ketiga.

Anda seorang freelancer jika tertarik lifestyle yang lebih leluasa, kebebasan mengontrol waktu dan tak terlalu berisiko. Anda sendiri yang memutuskan dan berkuasa penuh, bukan pemodal yang haus akan keuntungan dari dana yang mereka tanamkan. Klienlah yang butuh profesionalitas Anda. Tidak berarti Anda harus bekerja dari dalam kamar atau garasi rumah. Anda bisa punya kantor sendiri ditemani beberapa karyawan. Jika Anda punya PR (Public Relation) agensi dengan sederet publikasi mentereng, Anda tetap seorang freelancer. Kenapa? Karena produk yang ditawarkan berbasis Anda sendiri. Anda punya gawean relatif mapan dan kontrol dalam genggaman sendiri dengan tetap menjadi freelancer.

Sementara, Anda beranjak ke arah entrepreneur jika akan membangun organisasi yang lebih besar dan ingin tumbuh dengan kencang. Karakteristik dari entrepreneur adalah impian meraup pendapatan yang jauh lebih besar. Entrepreneur tidak keberatan berbagi kontrol dengan pemodal atau strategi lainnya agar bisnisnya menggurita. Dan sangat paham bahwa entrepreneurship adalah menantang risiko.

Nah, dengan kejelasan beda antara freelancer dan entrepreneur, Anda akan lebih gampang mengambil posisi dan membidik langkah selanjutnya.

Read More...

Menjemput Uang dengan Waralaba

Diposkan oleh zaduna | Rabu, April 01, 2009

Tak ingin kehilangan peluang menekuni bisnis makanan, para pemodal buru-buru meminang pemilik waralaba untuk segera mewaralabakan usahanya.

Keuntungan berinvestasi dalam bidang franchise menjanjikan keuntungan yang menggiurkan ketimbang menaruh uangnya di deposito. Yang menarik, selain produknya makin beragam, rentang nilai investasinya pun kian lebar. Kalau dulu untuk investasi waralaba membutuhkan modal mulai dari Rp 100 juta hingga Rp 3 miliar, belakangan tawarannya kian bergerak ke bawah.



Coba Menerobos "Pakem"
Bagi Amir Karamoy, maraknya tawaran waralaba belakangan ini tak begitu mengejutkan. Sebab, di mata pengamat sekaligus konsultan bisnis waralaba itu, Indonesia memang lahan subur untuk mengembangkan bisnis ini. Selain karena potensi pembelinya yang berlimpah, regulasinya pun belum terlalu berbelit. Bisnis ini cuma diatur oleh Peraturan Pemerintah dan SK Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Ayam Goreng Fatmawati, usaha rumah makan yang diusung oleh tiga wanita (Dr. Ir. Erliza Hambali, Ratna Permanik dan Hj. Fatmawati) langsung menyiapkan sistem waralaba justru saat mulai mendirikan usahanya pada tahun 2000. Alasannya, mereka ingin usahanya itu bisa segera menampung limpahan tenaga kerja yang ada di pasar. Kini mereka melenggang di pasar dengan mengusung waralaba ayam gorengnya.

Apa yang dilakukan Ayam Goreng Fatmawati jelas menerobos pakem bisnis waralaba. Pasalnya, menurut Amir Karamoy, biasanya sebuah perusahaan baru berani mewaralabakan usahanya apabila telah berhasil mengembangkan bisnisnya sendiri. Bahkan, kata dia, dalam salah satu SK Menperindag tentang bisnis waralaba disebutkan bahwa perusahaan tersebut harus bisa menunjukkan kinerja usahanya dalam tiga tahun berturut-turut. "Jadi sudah terbukti bahwa usahanya bisa berjalan, sehingga orang yang mau berinvestasi memiliki pegangan", katanya. Tapi toh Ayam Goreng Fatmawati terus berkibar dengan ayam goreng kuning dan ayam bakarnya.

Hasilnya juga tak mengecewakan. Saat ini ada lebih dari 40 gerai Ayam Goreng Fatmawati yang menyerap 500 tenaga kerja. Jumlah tersebut langsung menjejeri gerai salah satu Rumah Makan franchise lokal lainnya. Alasan mereka yang sukses mengembangkan usaha waralaba pada umumnya ingin berbagi keberhasilan lewat cara waralaba.

Urusan Perut Paling Dominan
Meski tawaran kian beragam, hingga kini usaha waralaba makanan masih mendominasi. Menurut catatan sebuah sumber, dalam dua tahun terakhir, ada lebih dari sepuluh tawaran waralaba makanan yang masuk ke pasar. Menurut Amir Karamoy, ini wajar saja karena peluang bisnis makanan dan minuman memang masih terbuka lebar. "Orang masih butuh makan dan minum," tegasnya. Besarnya peluang untuk meraih margin laba yang tinggi dalam bisnis makanan memang menjadi alasan utama bagi banyak investor untuk menanamkan uangnya di bisnis ini.

Menakar Risiko Bisnis
Sebenarnya, menurut Amir, ada banyak hal yang mesti dicermati baik oleh pemilik waralaba maupun calon pembelinya. Satu hal yang dianggapnya cukup penting adalah unsur keterbukaan dari pihak pemilik waralaba dalam kaitan dengan kinerja usahanya. "Mereka harus bisa menunjukkan laba ruginya dalam dua tahun berturut-turut dan bisa dicek," katanya.

Pemicu Maraknya Bisnis Waralaba
1. Longgarnya regulasi untuk bisnis waralaba yang ada. Saat ini hanya diatur dalam Peraturan Pemerintah dan SK Menperindag.
2. Tingkat keuntungan yang jauh lebih tinggi ketimbang suku bunga deposito.
3. Adanya bukti bahwa bisnis waralaba menguntungkan.
4. Tingginya minat para pemilik modal untuk ikut memiliki usaha dengan cara waralaba.
5. Sulitnya mengurus SDM dan pengawasan jika ekspansi bisnis dikelola sendiri.
6. Mempertahankan kelangsungan bisnis yang sudah dikelola selama puluhan tahun.
7. Pemilik waralaba bisa berekspansi tanpa memerlukan banyak modal.
8. Cara paling cepat mengangkat sebuah merek.
9. Potensi pasar yang masih terbuka.
10. Menciptakan sebuah pasar baru bagi sebuah produk.

Read More...

Membius Pengunjung Dengan Sales Letter

Diposkan oleh zaduna | Jumat, Maret 20, 2009

Dalam situs web affiliate Anda, apakah pembeli produk Anda sudah banyak? Jika belum, kira-kira apa yang kurang dari situs web Anda? Mungkin menurut Anda desain situs web sudah bagus. Tidak ada yang berlebihan, loadingnya pun cepat. Nah, kira-kira apa ya yang jadi biang kerok, penghambat penjualan produk Anda?

Untuk mencoba menjawab permasalahan ini, coba Anda jawab pertanyaan ini dulu. “Apakah sales letter yang Anda buat sudah bisa membius pengunjung?”

Ingat ya, sales letter itu juga nyawa situs web ataupun blog affiliate Anda. Jika tidak ada pengunjung yang “ngeh” dengan sales letter Anda, ya, jangan harap ada pembeli.

Nah, untuk membuat sales letter yang membius, baca dulu yang di bawah ini.

1. Pikirkan pengunjung. Ya, kita jangan memikirkan diri sendiri saat membuat sales letter. Tapi, pikirkan bagaimana perasaan pengunjung saat membaca sales letter kita. So, jangan buat sales letter yang terlalu “narsis”. Sebaiknya kita jangan melulu ngomong tentang diri kita sendiri. Karena pengunjung bosan dengan ulasan yang berlebihan. Ya, kecuali kalau kita sudah cukup dikenal oleh pembaca. Justru ke”narsis”an bisa jadi motivasi pembaca. Misal kita bisa menulis tentang pencapaian dan kecakapan kita. Tapi, ya tetap saja, jangan berlebihan!

2. Pikirkan manfaat produk Anda. Bagaimanapun yang namanya orang membeli itu karena mereka butuh. Dan karena mereka ingin mengambil manfaat dari produk Anda. Jadi kadang-kadang pembeli tidak peduli dengan keunggulan produk Anda. Mereka berpikir, “Kalau saya tidak membutuhkan produk ini dan tidak ada manfaatnya buat saya, kenapa saya harus membelinya?”

3. Logika Vs Emosi. Poin ini kebalikan dari poin no 2 di atas. Kalau tadi kita membahas pengunjung membeli karena mereka butuh, sekarang kita bahas pengunjung membeli karena mereka tidak butuh. Maksudnya bagaimana?? Contohnya, ya, para pengunjung yang hobi shopping. Mereka sering kali membeli barang yang tidak mereka butuhkan tapi mereka inginkan. Nah, ini tugas Anda membuat pengunjung membeli yang mereka inginkan. Jadi, gunakan kata-kata yang bisa menimbulkan emosi untuk membeli. Jangan cuma kata-kata penuh emosi! Tahu kan bedanya?

4. Pengalaman pribadi. Banyak orang yang tertarik dengan pengalaman pribadi. Jika Anda memasang pengalaman pribadi dalam sales letter Anda, tentu ini efektif. Karena sales letter yang demikian mampu membujuk pengunjung. Anda bisa ceritakan pengalaman Anda setelah memakai produk yang anda jual.

5. Susun kata-kata Anda dalam bentuk list atau daftar. Jangan menulis poin-poin tentang produk Anda dalam bentuk paragraph. Agar, pengunjung bisa jelas membaca apa saja menfaat produk Anda. Dan, mereka bisa langsung membaca apa yang mereka cari. Oya, jangan lupa untuk membuat tulisan pendek dan to the point.

6. Tidak perlu mengejar kesempurnaan. Tujuan sales letter itu menjual produk. Jadi, jangan terjebak dengan membuat sales letter yang bahasanya sempurna. Ejaan dan tata bahasa yang benar saja sudah cukup. Jadi, Anda tetap menunjukkan profesionalisme. Dan, yang terpenting pengunjung mengerti maksud Anda.

7. Uji coba. Untuk mengetahui keberhasilan sales letter, Anda harus mengujinya. Yupp!! Hasil uji coba bisa Anda lihat dengan angka penjualan. Jika penjualan Anda sudah tinggi, bisa dikatakan sales letter Anda mampu membius pengunjung.

Satu hal yang tidak kalah penting, saat Anda membuat sales letter bayangkan Anda sedang berbicara dengan teman dekat Anda. Ingat, pengunjung yang membaca sales letter punya kebutuhan masing-masing. Jika Anda bisa berempati pada kepentingan mereka, penjualan anda akan meningkat!

Read More...

Model Bisnis OpenSource

Diposkan oleh zaduna | Senin, Maret 09, 2009

Aku mau melist point-point penting apa saja yang menjadikan Linux sebagai ujung tombak untuk berbisnis. Karena banyak dari kita yang bingung, kalau software Linux itu opensource semuanya terbuka dan gak ada rahasia software, bagaimana kita mendapat untungnya?

1. Jasa pelatihan/training/workshop, Linux itu terkenal lebih sulit dipelajari dari pada Windows, tapi bukan pula tidak mungkin di pelajari. Yang udah merasa bisa dengan Linux bisa membuka jasa pelatihan, skala besar seperti Nurulfikri (LP3T), Indolinux, linuxindo, Bajau, Brainmatics. Atau skala kecil kecilan, ya kumpulin aja temen temen sekitar 20 orang kita ngoprek Linux di warnet misalnya. Bisa juga jasa private training, kan lumayan.

2. Jasa instalasi & maintenance, Linux itu mature, robust untuk server, misalnya proxy, mail, web, dll. Tapi tekniknya lumayan sulit dipelajari dan butuh waktu lama untuk bisa develop server-server ini. Banyak perusahaan besar dan kecil yang orang IT nya sudah tahu keunggulan linux tapi belum bisa membangun sendiri. Nah jasa intalasi & maintenance bisa masuk disini.

3. Jual CD & software Linux. Linux itu kebanyakan bisa di download dari internet, bisa pinjam CD dari teman, bisa beli majalah infolinux dapet CD nya. Tapi banyak yang gak punya koneksi internet yang kenceng. Kalau cuma dialup aja mana sanggup download iso yang 700mb, apalagi distro gede bisa 3-4 CD, sekarang udah pada bikin DVD lagi. Mending beli aja cd nya. Setahuku yang paling populer adalah www.gudanglinux.com yang laen banyak sih cuma gak terkenal.

4. Developer software, belum banyak developer Linux base di kita. Kebanyakan masih asyik dengan Windows-nya. Di luar negeri udah fifty fifty deh developer Linux VS Windows. Dan model bisnisnya juga menarik. Kebanyakan mereka membuat software opensource tapi kalau mau disupport teknisnya, mereka minta bayaran. Contohnya MySQL, menerapkan cara ini.

5. Developer Distro Linux, mirip dengan developer software cuma fokusnya ke distro Linux. Kebanyakan distro yang sukses di pasaran adalah yang membuat dua versi Linuxnya, Redhat sekarang membuat RHAS, RHEL yang komersial sedangkan untuk gratisan mereka membuat Fedora Core. Suse membuat Suse Enterprise Server dan gratisannya membuat OpenSuse. Begitu juga dengan Mandriva. Hmm, ada lagi yang dengan baik hati membagi-bagi gratis distronya seperti Ubuntu. Pasti dibelakangnya ada bisnis gede. Bisa aja jualan software, jualan hardware, aq gak tau dah.

5. Developer hardware, iya sekarang banyak developer hardware yang membuat mesinnya pake embedded Linux, misalnya mesin kontrol, multimedia, komunikasi, dll. Kalau pakai software komersial akan mengakibatkan harga produk akhirnya akan menjadi semakin mahal, belum lagi development-costnya yang tinggi.

6. Developer software komersial, developer komersial mendapat sekarang mulai membuat softwarenya menjadi versi Linux dan versi Windows. Karena mereka melihat pasar Linux akan berkembang dengan pesat.

Dan yang terakhir kebanyakan yang berbisnis dengan Linux mempunya dua kepentingan, yaitu kepentingan bisnis yang komersial dan non komersial. Yang komersial ya wajar aja semua orang perlu uang untuk hidup, begitu juga perusahaan. Dan segi non komersial mereka berusaha memberikan kontribusi ke publik sebanyak-banyaknya, bentuknya juga macam-macam. Misalnya membuat web portal, developer site (sourceforge.net, freshmeat.net), repository distro, membangun komunitas, membuat kegiatan linux group, milis, developer sw opensource.dll

Read More...

Apa Itu Marketing Syariah ?

Diposkan oleh zaduna | Kamis, Maret 05, 2009

Guru marketing Hermawan Kartajaya sudah beberapa lama bergaul dengan praktisi keuangan syariah. Ia mulai fasih mengatakan ajaran Islam sebagai rahmatan lil alamin. Beragama Katolik, Hermawan malah berniat ikut dalam mengembangkan nilai marketing Islami. Berikut petikan wawancara sesaat setelah peluncuran buku Sharia Marketing di Jakarta pekan lalu.

Sebetulnya apa beda marketing syariah dan konvensional?
Dalam dunia marketing itu ada istilah kelirumologi. Itu lho sembilan prinsip yang disalah artikan. Misalnya marketing diartikan untuk membujuk orang belanja sebanyak-banyaknya. Atau marketing yang yang pada akhirnya membuat kemasan sebaik-baiknya padahal produknya tidak bagus. Atau membujuk dengan segala cara agar orang mau bergabung dan belanja. Itu salah satu kelirumologi ( merujuk istilah yang dipopulerkan Jaya Suprana). Marketing syariah itu mengajarkan orang untuk jujur pada konsumen atau orang lain. Nilai syariah mencegah orang (marketer) terperosok pada kelirumologi itu tadi. Ada nilai-nilai yang harus dijunjung oleh seorang pemasar. Apalagi jika ia Muslim.

Apakah nilai marketing syariah bisa diterapkan umat lain?
Lha ya nilai Islam itu universal. Rahmatan lil alamin. Begitu kan istilahnya. Nabi Muhammad itu menyebarkan ajaran Islam pasti bukan hanya untuk umat Islam saja. Jadi tidak apa-apa jika nilai marketing syariah ini inisiatif orang Islam supaya bisa menginspirasikan orang lain. Makin banyak non-Muslim yang ikut menerapkan nilai ini, makin bagus. Saya ikut mengendorse marketing syariah. Soal jujur itu kan universal. Jadi marketing syariah harus diketahui orang lain dalam rangka rahmatan lil alamin itu.

Apa nilai inti marketing syariah?
Integrity atau tak boleh bohong. Transparansi. Orang kan tak boleh bohong. Jadi orang membeli karena butuh dan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan, bukan karena diskonnya. Itu jika konsep marketing dijalankan secara benar.

Bagaimana muasal perkembangan nilai spiritual dalam marketing?
Sejalan dengan perkembangan dunia. Setelah September attack, orang melihat IQ dan EQ saja tidak cukup. Harus ada SQ, spiritual quotient. Orang melihat.

Apakah nilai marketing syariah ini akan bertahan?
Ya pasti sustain. Karena prinsip dasarnya kejujuran. Ini yang dibutuhkan semua orang. Apalagi setelah kasus seperti Enron, Worldcom dan lainnya. Orang melihat
bisnis itu harus jujur.

Lalu di mana peran ilmu marketing dalam konsep syariah?
Syariah mengendorse marketing dan marketing mengendorse syariah. Ilmu marketing menyumbangkan profesionalitas dalam syariah. Karena jika orang
marketing tidak profesional, orang tetap tidak percaya. Lihat saja bagaimana investor Timur Tengah belum mau investasi di Indonesia, meski negara ini populasinya mayoritas Muslim. Karena mereka tidak yakin dengan profesionalitas kita. Jadi, jujur saja tidak cukup.

Bukankan nilai kejujuran dan transparansi itu diajarkan semua agama?
Ya. Memang semua agama mengajarkan nilai itu. Tapi jangan lupa bahwa islam itu rahmatan lil alamin. Jadi, ada titik singgung. Bukankah lebih baik mencari yang serupa dari pada memperkarakan yang berbeda. Jika begitu hidup kita damai. Menurut saya, tak mengapa kita sebut marketing syariah. Karena mayoritas populasi di Indonesia itu Muslim. Jadi nilai syariah yang kita kedepankan. Kita mulai di sini, di Indonesia. Ada bagusnya jika yang mengendorse itu orang Islam, bukan yang lain.

Setelah nilai spiritual konsep apa lagi yang akan mengemuka dalam dunia bisnis?
Millenium. Orang mencari keseimbangan. Maksudnya orang berbisnis itu harus menjaga kelangsungan alam, tidak merusak lingkungan. Berbisnis juga ditujukan untuk menolong manusia yang miskin dan bukan menghasilkan keuntungan untuk segelintir orang saja. Nilai-nilai ini ke depan akan mengemuka. Sekarang pertemuan para praktisi marketing mulai mengarah ke sana.

Setelah mengenal Islam, apa pendapat Anda tentang nilai yang diajarkan?
Islam agama yang universal dan komprehensif. Guidance-nya lengkap. Ada petunjuk untuk seorang pedagang, kepala negara, seorang anak, panglima perang
dan semuanya. Ada diatur secara lengkap. Di atas semua itu saya melihat Islam itu ajaran yang damai dan indah. Ajaran Islam bisa dipakai semua orang. Itu kesan saya dan mengapa saya mau mempelajari nilai Islam untuk dikembangkan dalam konsep marketing. Saya sekarang menjadi aktivis lingkungan dan nilai-nilai.

Read More...